Thursday 26 September 2019

Menghadapi Wawancara



Tips Menghadapi Wawancara Secara Offline



    1.  Persiapkan diri
Membuat daftar pertanyaan-pertanyaan umum yang cenderung diberikan pada saat wawancara kerja dapat membantu dalam  memberikan jawaban yang lebih tepat. Siapkan pertanyaan dan jawaban yang menurut anda (bayangkan diri anda sebagai direksi perusahaan) sesuai. Jika pertanyaan tersebut keluar pada saat wawancara pasti akan dengan lancar dalam menjawab pertanyaan tersebut.

    2.  Perlihatkan poin plus 
Persiapkan nilai-nilai plus (siapkan 3-5 poin) yang menjelaskan alasan mengapa anda pantas diterima, dan menyatakan kemampuan-kemampuan anda untuk posisi yang sedang diincar. Dengan menunjukkan nilai lebih anda, tentu akan membantu perusahaan untuk memastikan bahwa anda adalah calon yang sesuai.

    3.  Manfaatkan waktu dengan maksimal
Ketika seorang pegawai mewawancarai anda, maka sebaiknya manfaat waktu anda semaksimal mungkin, berikan jawaban yang jelas jika anda memang benar benar ingin diterima tanpa berbelit belit.
Ketika waktu telah ditetapkan maka anda haruslah fokus terhadap apa yang dipertanyakan usahakan jangan sampai anda gugup karena akan membuat jawaban anda tidak maksimal.
Seorang pewawancara bisa memutuskan anda diterima atau tidak dalam waktu tersebut sehingga berhati hatilah ketika menjawab.

    4.  Bawalah cv diri anda
Membawa resume ketika anda melakukan wawancara dapat membantu pewawancara untuk mereferensi kembali pengalaman studi atau bekerja anda. Dengan cara ini tentu dapat menghemat waktu untuk anda dalam memberikan jawaban yang sesuai dengan resume dan dapat mengalihkan respon jawaban kepada poin-poin positif yang dimiliki.

    5.  Kenalilah perusahaan tempat melamar
Mengetahui seluk beluk perusahaan tempat anda melamar sangatlah penting karena perusahaan akan mempekerjakan calon yang telah mengerti perusahaan tersebut. Dengan mengenali perusahaan yang diinginkan.

    6.  Gerak-gerik dan bahasa tubuh yang sesuai
Pewawancara akan memperhatikan mulai dari momen anda masuk ke dalam ruangan wawancara. Pakaian yang anda kenakan, jabat tangan yang diberikan hingga kontak mata dapat menjadi penilaian kesuksesan suatu wawancara. Fokuskan pewawancara pada kualitas yang anda miliki untuk posisi pada perusahaan.


Tips Menghadapi Wawancara Secara Online



     1.  Cek apakah koneksi internet dan sarana pendukung lainnya siap digunakan?
Hal pertama yang perlu anda persiapkan adalah koneksi internet yang stabil dan sarana pendukung lainnya dalam kondisi yang baik. Hal ini untuk mencegah tidak terjadinya gangguan teknis komunikasi.
Koneksi internet yang anda miliki mungkin akan lancar digunakan untuk browsing atau menjelajah media sosial. Namun, apakah cukup lancar digunakan untuk video call?
Anda perlu memastikan hal tersebut. Untuk memberikan kesan profesional, siapkan alat pendukung presentasi sebaik mungkin. Mulai dari gadget yang digunakan, speaker atau headset, aplikasi pendukung video, pencahayaan, hingga lainnya yang dapat memengaruhi kualitas wawancara online.

     2.  Pilih lokasi yang baik
Pilihlah lokasi atau tempat untuk wawancara online. Tidak ada batasan di mana anda bisa melakukan wawancara online.
Hindari public acces, semisal kafe, restoran, dan lainnya. Sebab akan banyak gangguan yang bisa mengganggu kelancaran wawancara online yang anda lakukan. Jika perlu, gunakan latar belakang dinding sebuah ruangan sehingga menghindari adanya gangguan-gangguan dari orang yang lewat.
Duduklah di depan jendela ataupun dengan pencahayaan yang mengarah ke wajah. Dengan begitu, nantinya dapat menerangi wajah anda meskipun ruangan dalam kondisi gelap.

     3.  Menjaga penampilan
Meskipun dilakukan  secara online, tetap perhatikan penampilan anda. Sesuaikan pakaian yang anda gunakan dengan karakter dari perusahaan tersebut. Dengan begitu, nantinya anda terkesan lebih profesional. Atau setidaknya gunakan baju formal layaknya wawancara tatap muka.
Posisikan diri sebaik mungkin mulai dari tampilan di kamera hingga bahasa tubuh yang juga akan dinilai oleh pewawancara
Pastikan posisi kamera sudah benar dan membuat wajah terlihat dengan jelas. Posisikan kamera agar pas dengan wajah dan memperlihatkan kesan profesional di dalam dirimu. Usahakan agar pewawancara bisa melihatmu setengah badan atau sebatas siku. Duduklah dengan tegak dan tenang, jangan terlalu dekat dengan kamera.

4. Lihatlah ke arah kamera, bukan melihat wajah pewawancara atau justru sibuk memerhatikan diri sendiri di layar kamera
Kebanyakan orang menatap lawan bicaranya di layar komputer mereka. Padahal, untuk melakukan imitasi kontak mata dalam percakapan video call, kamu harus menatap ke arah kamera komputermu. Apalagi jika kamu terlalu sibuk memandangi diri sendiri di pojok layar komputer. Selain pewawancara akan menilaimu narsis, terlalu sering memandangi diri sendiri juga akan membuatmu menjadi kurang konsentrasi dalam melakukan presentasi atau menjawab pertanyaan. Boleh sesekali memandang diri sendiri untuk mengoreksi posisi, namun lebih banyaklah menatap pewawancara ke arah kamera.

Referensi :


Wednesday 17 July 2019

The Example of Tenses.



   
   
     1.    Present Tense
·         She drinks milk every morning
·         Dia(pr) minum susu setiap pagi
     Reason : This sentence use present tense and contains V1 + s (drink + s) because of adverb of time, that is “every morning”.
     2.    Present Tense, stative
·         I appreciate your decision
·         Aku hargai keputusanmu
     Reason : This sentence contains stative verb “appreciate” because it is describe a state or situation and not an action.
3.    Present Tense, stative verb
·         I love it when you call me señorita
·         Aku suka saat kamu memanggilku señorita
     Reason : This sentence contains stative verb “love” because because it is describe a state or situation and not an action, but describe someone feeling.
     4.    Present Perfect Tense
·         Diana has worked in Magelang since 2010
·         Diana telah bekerja di Magelang sejak 2010
     Reason : This sentence use present perfect and contains has + V3 (has + worked) because adverb of time that is “since”.
     5.    Present Perfect Tense
·         She rain hasn’t stopped crying
·         Dia(pr) masih belum berhenti menangis
     Reason : The sentence uses present perfect and contains has + V3 (has + stopped) because the time isn’t shown on the sentence.
     6.    Present Future Tense
·         Rani will doing her homework
·         Rani akan mengerjakan tugas rumahnya
     Reason : The sentence use present future because use the word “will” that’s mean the action still hasn’t been done.
     7.    Present Continous Tense
·         They are dancing at the ballroom right now
·         Saat ini mereka sedang berdansa di ruang dansa
     Reason : The sentence uses present continous and contains V1 + ing (dance + ing) because adverb of time that is “right now”.
     8.    Persent Continous Tense
·         I am going to your home tomorrow
·         Aku akan pergi ke rumahmu besok
     Reason : The sentence uses present continous and contains V1 + ing (go + ing) because adverb of time that is “tomorrow”.
     9.    Combined 2 Tenses with “After”
·         I went to theater after I had finished my homework
·         Aku pergi ke teater setelah aku selesai mengerjakan tugas rumahku
     Reason : The sentence combine with two tenses and seperate by the word of “after”. The first sentence use past perfect tense, and the second is using simple past tense.
     10.  Combined 2 Tenses with “While/When”
·         While Rudi was studying at school, his sister was practicing dancing
·         Ketika Rudi belajar di sekolah, adik perempuannya belajar menari
     Reason : The sentence combine with two tenses. Both sentence are using past continous tense and combined with the word “While”.

Friday 11 January 2019

Economic System In Indonesia


Best Economic System in Indonesia

In this advanced era, Indonesia can be regarded as a country that have a good opportunities in the growth of its economic system. The large amount of labor and infrastructure that has improved quite well, made Indonesia's economic system also increase. The existing economic system can be developed and adapted to the current conditions of Indonesia while still adhering to the Pancasila and the 1945 Constitution. Indonesia's economic system will always increase depending on how the government accumulates various indicators. Such as encouraging private investment, infrastructure development efforts and it is estimated that investment can contribute quite a lot. Young scholars also may not focus on being to be an employees, but must be brave to become a young entrepreneurs. Keep in mind, to improve Indonesia's economic system there must be an effort from the government. In addition, the community must also support the government to make it happen. The resources that are owned must also be utilized well for the welfare of the community and a better future for the country.



Indonesia Economic System in Soekarno's Era

In the period of the 1950s Indonesia adopted a guidance development model in economic management, with a basic pattern of Growth with Distribution of Wealth where the role of the central government was very dominant in regulating economic growth (planned universal development). This model was not successful, because the complexity of the economic, social, political and security problems faced by the government and wanted to be resolved together and simultaneously. The culmination of the failure of old-order economic development was a hyper inflation that reached more than 500% at the end of 1965. Indonesia didn't fully adapted the capitalist economic system, but also integrated it with economic nationalism. An inexperienced government still interferes in production activities that affected many people. Plus political turmoil, resulting in instability in the country's economy. Almost all of the economic programs of the Soekarno government failed in the middle of the road. A guided economic system requires all elements of the Indonesian economy to became instruments of the revolution. In a guided economy, economic activity is emphasized in the concept of mutual cooperation and kinship as formulated in Article 33 of the 1945 Constitution.